082311771819 yppm.maluku@gmail.com
Sasar Kalangan Anak Muda, YPPM Maluku Kembali Gelar FGD Literasi Digital

Sasar Kalangan Anak Muda, YPPM Maluku Kembali Gelar FGD Literasi Digital

(YPPM) Maluku, saat menggelar Focus Discussion Group (FGD) membahas tentang tentang literasi digital/media dengan melibatkan kalangan anak muda di Café Sianida Kota Masohi, Sabtu (06/08/2022).

Masohi – Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (YPPM) Maluku, kembali menggelar Focus Discussion  Group (FGD) membahas tentang tentang literasi digital/media dengan melibatkan kalangan anak muda di Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).

Kegiatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan literasi digital kalangan anak muda ini, digelar di Café Sianida Kota Masohi, Sabtu (06/08/2022).

FGD melibatkan sejumlah pihak, antaranya perwakilan dari Forum Disabilitas Maluku Tengah, komunitas anak muda yang tergabung dalam Koalisi Pamahanunusa, serta mitra Program Democratic Resilience (Demres) di Kota Masohi.

YPPM Maluku dalam kegiatan ini, bertujuan untuk menularkan pengetahuan tentang analisa dan indentifikasi berita hoaks [bohong) yang makin marak terjadi di tengah masyarakat.

Dalam paparnya sebagai narasumber pada FGD ini, Soleman Pelu dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menguraikan, mudahnya masyarakat dalam mengakses informasi yang tidak diimbangi dengan pengetahuan literasi digital yang baik,  akan dapat menyebabkan kesalahan dalam penyebaran informasi  dan  tidak terkontrol.

”Hoaks tersebar di seluruh dunia maya, baik melalui media sosial maupun aplikasi percakapan dan sebagai masyarakat awam, kita pun bisa terpapar atau bahkan menyebarkan hoaks tersebut ke orang lain,” ungkap Soleman.

Menurut dia, penyebaran berita bohong, baik berupa misinformasi maupun disinformasi di saluran platform media social, tak lain  disebabkan karena tingkat literasi digital/media masyarakat atau pengguna media di Indonesia masih rendah.

“Ini karena masyarakat dan pengguna media kurang memiliki kemampuan mengidentifikasi hoaks, serta rentan ikut menyebarkan informasi hoaks,” tandasnya.

Ia mengungkap, terdapat beberapa cara atau tips sederhana untuk membedakan mana berita hoaks dan berita asli.

Dikatakan, diperlukan kehati-hatian dengan melihat judul yang provokatif, cermati alamat situs, periksa fakta melalui hoax buster tools, serta cek keaslian foto jika berita tersebut menggunakan foto.

“Bisa melalui Google Reverse Image untuk mengecek keaslian foto,” jelas Soleman.

Semnetara itu salah satu, Thomas Madilis ikut membagikan pengalamannya saat ditangkap pihak berwajib karena dianggap menyebarkan ujaran kebencian.

Thomas menyampaikan pentingnya kecakapan dan pengetahuan tentang literasi digital dalam bermedia sosial yang baik sehingga terhindar dari jeratan UU tentang ITE.

Thomas Madilis ditangkap karena mengunggah di status media sosialnya tentang pelaksanaan Rekor Muri Minum Jus Pala yang diselenggarakan Polda Maluku.

Adapun isi status medsos Thomas tersebut adalah :

‘Ya Tuhan, ada apa dengan TNI Polri di Maluku. Kenapa menjadi gila Muri’.

Kemudian, “Orang Maluku itu jago makang puji, makamnya kejar rekor muri sabarang sabarang. Habis makan papeda sekarang minum pala. Padahal pala kalah dari aceh, sagu kala dari riau mar paleng biking diri karas. Coba rekor tanam sagu ka pala terbanyak supaya kuota penghasil itu jadi nomor satu, masa untuk memikir hal begini saja sulit. _marsutalalulaituangala” tulis Madilis.

Saat itu, kata dia,  polisi mengenakan pasal berlapis terhadap Thomas  dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara. Tersangka dikenakan Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2) dan atau Pasal 15 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1946.

Kemudian Pasal 45A ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA),” (*)

Penulis : Edha Sanaky

Tular Nalar Solusi Lansia Berpikir Kritis

Tular Nalar Solusi Lansia Berpikir Kritis

AMBON, JW.- Pada 2019 program For International Student Assesment (PISA) yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) menemukan bahwa Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara, atau 10 dari negara yang memiliki tingkat literasi paling rendah.

Selain itu survei yang dilakukan The United Nations Educational Scientific and Cultural Organization atau disingkat UNESCO soal literasi di dunia, minat baca masyarakat Indoneisa sangat rendah, dengan persentase 0,001 persen atau dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang memiliki minat membaca yang tinggi.

Sementara di Provinsi Maluku, menurut hasil kajian kegemaran membaca 2020 yang dilakukan Perpustakaan Nasional RI, Maluku memperoleh nilai tingkat Kegemaran Membaca Masyarakat, yakni 52,90 atau peringkat 26 dari 34 provinsi di Indonesia, selerti dikutip Liputan6.com.

Selain rendahnya minat baca, saat ini banyak informasi yang beredar di media sosial yang mengandung hoaks, provokasi, ujaran kebencian, isu SARA, dan lain-lain. Apalagi masyarakat dihadapkan dengan dunia digital yang kejahatan sibernya sangat canggih seperti, kebocoran data pribadi dan juga pesan berantai yang diterima secara induvidu ataupun panggilan penipuan yang sering terjadi disekitar kita, hal tersebut menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Melihat kondisi tersebut, pada tahun 2020, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) bekerja sama dengan Ma’arif Institute dan Love Frankie dan didukung oleh Google.org bersama-sama meluncurkan Program Tular Nalar. Tular Nalar sendiri berfokus pada kurikulum literasi media dan sebagai sarana untuk latihan-latihan berpikir kritis, dengan mewujudkan berbagai perkakas (tools) pembelajaran; mulai dari video, website, artikel rubrik, dan lain-lain.

Melalui program Tular Nalar, yang meliputi berbagai jenjang, kompetensi literasi media dapat diasah sesuai dengan konteksnya. Kegiatan Tular Nalar sudah berjalan selama dua tahun dengan melatih 26.700 guru, dosen dan guru honorer di 23 Kota yang tersebar di Indonesia termasuk Kota Ambon.

Sedangkan untuk tahun 2022 program ini terfokus pada para lansia karena dianggap rentan terhadap informasi-informasi yang terindikasi hoaks, penipuan dan juga kejahatan digital lainya.

Melalui program Tular Nalar Lansia, MAFINDO Wilayah Maluku baru-baru ini melakukan edukasi kepada warga lansia di Kota Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah baik secara online maupun secara offline.

Hasil pantauan Jurnalis Warga (JW) Ambon, salah satu kegiatan Tular Nalar Lansia yang dilakukan secara online dikuti oleh 27 peserta, yang merupakan keterwakilan dari beberapa instansi di kota Ambon, yakni Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Provinsi Maluku, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, UPT. Perspustakaan Universitas Pattimura Ambon dan masyarakat lain yang berdomisili di kota Ambon, dan Kabupaten Maluku Tengah.

Kegiatan Tular Nalar yang digelar Mafindo Maluku dalam jaringan atau daring lewat zoom meeting, 2 Juni 2022.

Kegiatan yang berlangsung melalui apliksi Zoom Meeting tersebut, mendapat respon positif dari para peserta. Seperti disampaikan Ismail Sangadji dalam video testimoni oleh tim Mafindo Maluku, Sabtu (2/06/22).
Menurutnya, Tular Nalar hadir sebagai filter atau penyaring dalam menangkal berita bohong atau hoaks.“Semoga dengan Tular Nalar yang diberikan kepada kami warga masyarakat Maluku, dapat kita jadikan sebagai filter untuk menepis isu-isu hoaks yang tidak bertanggung jawab”, kata Sangadji.

Dia juga berharap bisa ikut serta dalam program tular nalar berikutnya, maupun kegiatan-kegiatan MAFINDO yang berhubungan dengan misinformasi dan disinformasi .
Hal serupa disampaikan peserta lainnya, Marlein Manuhutu, yang dikonfirmasi langsung oleh Jurnalis Warga (JW) Ambon.

Menurutnya kegiatan Tular Nalar sangat bermanfaat sekali bagi dirinya, sehingga ia bisa membedakan berita hoaks dan tidak, dan mengklarifikasi berita yang beredar di grup Whatsapp.
“Setelah mengikuti kegiatan ini, ada beberapa grup Whatsaapp yang berbagi tentang informasi, yang menurut saya adalah berita yang tidak masuk akal/akal dan saya langsung memberikan klarifikasi kepada mereka”, jelas Marlein.

Selan itu, ia juga berkeinginan agar MAFINDO Wilaya Maluku dapat bekerja sama dengan Sinode GPM atau kelompok pengajian dikalangan masjid untuk melakukan kegiatan yang sama secara tatap muka.

“Beta punya satu kinginan bahwa kegiatan yang bagus ini baiknya bisa juga dilaksanakan secara offline, lewat jalur perempuan gereja (bekerja sama dengan Sinode) atau kelompok pengajian. Karena kalau online lansia kurang tertarik”, katanya.

Selain kegiatan daring, sebelumnya MAFINDO sudah melakukan kegiatan secara offline untuk warga lansia di Desa Hitulama, Kabupaten Maluku Tengah. Kegaiatan tersebut juga mendapat respon postif dari pemerintah negeri dan juga para peserta.

“Buat beta pribadi kegiatan ini sangat menarik sekali, dan berguna untuk kita selaku masyarakt Negeri Hitu agar dapat bijak dalam menggunakan sosial media dan juga internet,”ujar Jaleha Pelu usai kegiatan di Kantor Desa Negeri Hitulama, Jumat (1/6/22).

Sementara itu, Koordinator MAFINDO Maluku, Roesda Leikawa mengatakan, program Tular Nalar Lansia yang sudah dilakukan di Maluku pada Juni 2022 baik secara online maupun offline diikuti 60 orang lansia dan pra lansia. Sementara di 2021 pihaknya juga sudah memberikan pelatihan Kurikulum Tular untuk 200 guru di Maluku melalui zoom.
“Kami berharap para peserta yang sudah kami latih bisa cakap digital menjelang tahun politik 2024 mendatang”, kata Roesda.

Lebih lanjut ia katakan, pada Agustus mendatang, MAFINDO akan melakukan Focus Group Discussion (FGD) Tular Nalar Lansia 2. Kegiatan Tular Nalar ini, kata Roesda bisa membekali para lansia maupun anak muda untuk berpikir kritis dan tidak mudah percaya dengan informasi-informasi yang didapat, serta tidak terjebak berita hoaks,, penipuan digital dan ujaran kebencian.
“Agustus nanti kami relawan MAFINDO Maluku bersama-sama dengan Tim Tular Nalar dan MAFINDO Pusat akan melaksanakan FGD di Kota Ambon, dengan sasaran lansia dan juga anak muda”, pungkasnya.

Penulis : Abubakar Difinubun (JW Ambon)

Remaja Gereja Kampanye Bahaya Hoaks Lewat Buletin

Remaja Gereja Kampanye Bahaya Hoaks Lewat Buletin

Deskripsi Foto: Remaja Sektor Zaitun mengkampanyekan bahaya hoaks lewat buletin dalam Pekan Kreativitas Anak dan Remaja Jemaat GPM Soya, Klasis Pulau Ambon (29/06).
© SMTPI Sektor Zaitun Jesoya

 

Ambon, JW – “Mudah dimanipulasi untuk kepentingan orang lain adalah akibat dari terganggunya akal sehat karena penyebaran berita bohong. Dengan derasnya pertukaran informasi di internet dan sosial media, setiap orang merupakan target yang rentan terhadap bahaya hoaks. Penting bagi remaja untuk belajar dan menyuarakan isu ini”.

Kutipan di atas disampaikan oleh Rakhel Nanlohy, Rabu, 20 Juli 2022 lalu. Remaja 13 tahun yang tergabung dalam Sekolah Minggu Tunas Pekabaran Injil (SMTPI) Sektor Zaitun Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Soya, itu bersamabteman-teman sebayanya menunjukkan ketertarikan terhadap literasi digital dengan memproduksi buletin.

“Belajar literasi digital sangatlah penting agar kita tetap waspada. Kita harus cekatan dan jangan mudah dapat parlente (tipuan) yang nantinya akan merugikan diri kita maupun data-data pribadi yang kita miliki,” tambahnya.

Buletin yang dibuat oleh kelompok remaja ini bertujuan untuk menginformasikan fenomena internet, bahaya hoaks, dan keamanan di dunia digital. Buletin bertajuk “Tabaos Tuhan Paling Bae (Baik)” itu ditampilkan dan dipresentasikan dalam acara Pekan Kreativitas Anak dan Remaja pada 29 Juni lalu, di hadapan seluruh jemaat dan disiarkan secara langsung melalui sosial media Sub Komisi Anak dan Remaja (SKAR) Jemaat GPM Soya.

Dalam kesempatan wawancara yang sama, Ketua Remaja SMTPI Zaitun, Aldo Maitimu (14) menyampaikan pendapatnya bahwa dalam berinternet remaja harus menimbang baik-buruk penggunaannya.

“Hoaks banyak beredar di grup-grup Whatsapp. Misalnya hoaks penawaran uang dan hadiah-hadiah yang menarik. Ada juga undian handphone dan giveaway dalam bentuk link yang mencurigakan. Tak sedikit dengan tujuan sosial. Lewat buletin ini kami ingin menyuarakan bahwa hoaks sangatlah merugikan,” ujar Maitimu.

Pembuatan buletin sebagai media kampanye remaja Zaitun ini melewati proses demi proses bersama para pengasuh sebagai pembina. Buletin yang terbit 4 halaman ini memuat rubrik berita, artikel tips dan trik, profil dan opini remaja, komik, serta karya seni lainnya.

SKAR mengapresiasi remaja Zaitun dalam upaya menyuarakan bahaya hoaks dan mengangkat topik literasi digital di dalam buletinnya. Wakil Ketua SKAR, Mima Tomasila sepaham bahwa banyaknya informasi di internet, harus diimbangi dengan kemampuan memilah yang baik dan bermakna.

“Pekan Kreativitas merupakan wadah bagi anak dan remaja GPM untuk melatih kemampuan mereka dalam berkarya. Remaja Zaitun yang mengangkat isu edukasi hoaks dan literasi digital dalam buletinnya merupakan hal yang sangat positif. Mereka mengajak teman-teman khususnya remaja untuk memilih yang terbaik bagi masa depan mereka,” imbuhnya.

Sebelumnya SMTPI Sektor Zaitun berkolaborasi dengan Mafindo Maluku untuk menyelenggarakan Sharing Session Literasi Digital menjelang paskah, 16 April lalu. Mereka (remaja Sektor Zaitun) diajarkan apa itu hoaks, dampak dan ciri hoaks, serta bagaimana periksa fakta dan pentingnya berpikir kritis.

Gereja sebagai elemen penting di masyarakat harus berperan aktif untuk menciptakan generasi tangguh dalam menghadapi tantangan kedepan. Hal ini disampaikan oleh Barends Unwakoly (24), Ketua Pengasuh SMTPI Sektor Zaitun.

Ia percaya melalui literasi digital, anak dan remaja akan diberikan tameng dalam menerima informasi yang beredar.

“Literasi digital penting. Banyaknya berita bohong yang beredar dapat memengaruhi cara anak-anak berpikir apalagi yang menyangkut politik dan SARA.

Mereka ada dalam tahap belajar dan berhak atas informasi yang benar. Untuk itu SMTPI sebagai wadah organisasi berfungsi menyiapkan penerus tongkat estafet gereja yang tangguh dan pemimpin masa depan yang tidak gampangan,” serunya.

Upaya kampanye ini sangat didukung oleh pihak orang tua. Mona Likumahwa menekankan akan pentingnya antisipasi bahaya berita bohong sejak dini di era yang serba internet apalagi remaja yang aktif dalam menggunakan media sosial.

“Dengan upaya edukasi hoaks, remaja dapat mengerti dan tidak sembarang menerima sebuah informasi. Sebagai orang tua kami sangat bersyukur karena semangat anak-anak. Mereka tidak saja menerima, tetapi aktif dalam mengkampanyekannya,” tuturnya penuh pengharapan.

Respon baik dan apresiasi berdatangan dari berbagai pihak atas upaya yang dilakukan remaja Zaitun untuk menyuarakan bahaya hoaks dan literasi digital.

Banyak yang mengajak untuk melakukan kegiatan koinonia atau kolaborasi kedepan. Buletin kini menjadi agenda rutin pengembangan kreativitas remaja dengan semangat yang membara untuk pemberdayaan.

Penulis : Harry Wellsy Bakarbessy (JW Ambon)

 

Serius Tangani Hoaks di Maluku, YPPM Gelar FGD Literasi Digital

Serius Tangani Hoaks di Maluku, YPPM Gelar FGD Literasi Digital

AMBON, JW–Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (YPPM) Maluku, melalui program Democratic Resilience (DemRes) yang bekerja sama dengan The Asia Foundation, menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama stakeholder DemRes di Kota Ambon, Kamis (28/7/ 2022).

Manager Program DemRes, Na’am Seknun, yang ditemui usai kegiatan itu mengatakan, FGD yang terfokus pada literasi digital ini, berhubungan erat dengan kerangka program Democratic Resilience, yang lebih fokus pada upaya melawan misinformasi dan disinformasi.


“Lewat FDG ini ada edukasi bersama. Untuk itu kegiatan literasi digital ini sangat bermanfaat untuk menjadi penguatan bagi kelompok dampingan YPPM Maluku dalam program Democratic Resilience itu sendiri”, katanya.

Komunitas dampingan dalam program DemRes ini merupakan penerima manfaat secara langsung dan perwakilan koalisi anak muda, serta jurnalis warga yang menjadi sasaran program. Dikatakan pula bahwa komunitas penting untuk berada dalam diskusi terfokus, mengingat edukasi kepada masyarakat yang dilakukan, melalui komunitas dalam program DeMres ini menyentuh secara langsung kepada masyarakat sipil.

Seknun berharap kegiatan ini dapat dikembangkan oleh komunitas dampingan dalam program DemRes ditingkat komunitas masing-masing dan dititularkan ke masyarakat umum.

“Kami perlu memetakan aktor-aktor kunci ditingkat komunitas, sehingga mampu mengimplementasikan apa yang diperoleh lewat diskusi-diskusi terfokus ini, terkhusus dalam narasi melawan misinformasi dan disinformasi di kota Ambon,” tutupnya.

Pada FGD kali ini, Soleiman Pelu yang merupakan relawan MAFINDO Maluku, memberikan materi terkait cara-cara sederhana memverifikasi sebuah berita dan pengamanan privasi di media sosial. Dalam paparannya ia tegaskan untuk peserta selalu berfikir kritis dalam menerima setiap informasi yang masuk.

Para peserta sangat antusias mengikuti setiap penjelasan narasumber, seperti yang disampaikan oleh salah satu perserta, James Pakniany, yang juga berprofesi sebagai dosen di Institut Kristen Negeri (IAKN) Ambon. Menurutnya literasi digital sangat penting untuk didiskusikan, karena masih banyak anak muda yang belum sadar tentang bahaya digital.

“Beta kira ini sangat penting, karena banyak informasi-informasi yang tersebar di media sosial itu, bahkan mahasiswa pung belum bisa membedakan mana berita bohong atau tidak,” kata James.

Lebih lanjut, ia mengatakan, kegiatan FGD yang dilakukan oleh YPPM ini juga bisa mengundang pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) karena banyak berita hoaks yang tersebar pada musim pemilu.

“Karena FGD ini penting dan menarik, baiknya bisa diundang dari KPU agar bisa kita sama-sama memfilter informasi-informasi yang menimbulkan kesalahpahaman antara warga disaat momen-momen politik medatang”, tegasnya.

Kegiatan yang berlangsung di Dermaga Caffe Ambon ini, melibatkan perwakilan Komunitas seperti Gerakan Pejuang Perempuan Milineal Maluku, Rumah Milineal Maluku, Komunitas sastra IAIN Ambon, Lembaga Pers Kampus, Akademisi IAKN Ambon, Majelis Ta’lim, Angkatan Muda Gereja Protestan (AMGP) Maluku, dan Perwakilan Disabilitas di kota Ambon.

Penulis : Abubakar Difinubun (JW Ambon)

 

Orang Muda Jangan Mudah Termakan Berita Bohong

Orang Muda Jangan Mudah Termakan Berita Bohong

Penyampaian materi periksa fakta oleh relawan Mafindo Maluku

AMBON,JW–15 orang muda duduk berjejer di atas kursi plastik. Mata mereka tertuju ke layar infokus. Mereka juga serius menyimak setiap ucapan dari seorang pria yang berada di hadapan mereka.

Deru knalpot kendaraan di jalanan tak mengganggu mereka, yang larut dalam suasana serius menimba pengetahuan dan pengalaman di halaman gereja Maranatha, 25 Juni 2022, siang itu. Lima belas orang muda itu adalah pengurus dan anggota Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Ranting Maranatha.

Mereka hadir sebagai peserta pelatihan anti hoaks dan periksa fakta yang diselenggarakan Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (YPPM) Maluku bekerja sama dengan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Maluku, lewat program Democracy Resilience (Demres). Sedangkan pria tersebut Soleman Pelu, relawan MAFINDO Maluku.

Ebi Peruru, Ketua AMGPM Ranting Maranatha mengatakan, literasi digital dan hoaks, memang merupakan kegiatan telah mereka rencanakan sebelumnya lewat salah satu program kerja, yakni sosialisasi di lingkungan masyarakat. Namun, karena pandemi Covid-19, kegiatan itu tak kunjung dilaksanakan.

Saat dihubungi staf YPPM untuk membicarakan rencana kegiatan itu, Ebi menyanggupi, setelah sebelumnya mendiskusikan dengan pengurus yang lain. Sebab, menurut dia, kegiatan literasi digital, terutama melawan hoaks sangat penting bagi orang muda.

“Kegiatan ini sangat memberikan pemahaman kepada kita, khususnya anak muda agar lebih teliti dan jangan cepat percaya terhadap berita yang baru didapatkan. Selain itu kita juga dapat mengetahui langkah-langkah mengecek kebenaran sebuah infornasi,”tegas Ebi.
Verifikasi Adalah “Senjata”
Sementara itu, saat memberikan materi tentang cara periksa fakta sekaligus melakukan praktik sederhana, Soleman mengatakan, jika ada satu berita yang tidak diketahui kebenarannya, sebaiknya jangan disebarkan.

Dia menyebutkan, ciri-ciri informasi tidak akurat adalah menggunakan judul provokatif dan mengiring pembaca kepada opini yang negatif. Semua itu tidak terpisahkan dari kehadiran internet di dalam kehidupan manusia. Olehnya itu, dia meminta orang muda, jangan ampang termakan hoaks.

Verikasi atau cek fakta merupakan “senjata” yang wajib digunakan untuk melawan hoaks. “Orang muda, saya kira jangan cepat atau mudah termakan hoaks. Perlu ada verifkasi atau memeriksa kebenarannya,”tandas pustakawan muda di perpustakaan Universitas Pattimura, itu.
Wellsy Harry Bakarbessy, relawan MAFINDO dan narasumber lainnya pada kesempatan itu mengatakan, perkembangan teknologi informasi telah menyebar di dunia tanpa batas. Hal tersebut menyebabkan perubahan sosial yang signifikan berlangsung dengan cepat.
Menurutnya, perkembangan teknologi informasi banyak memberikan dampak positif dan negatif dalam kehidupan. Salah satu dampak negatif perkembangan teknologi informasi yang sering dijumpai yaitu, banyaknya berita palsu (hoaks).
Sementara dampak positifnya memberi kemudahan untuk mendapatkan layanan tertentu meski lewat jarak jauh, misalnya berbelanja online, pesan tiket online, dan lain sebagainya.

“Menghemat waktu, bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun. Kemudahan untuk mencari dan mendapat informasi lewat akses internet,” terang Wellsy.

Ella Gaspersz, salah satu peserta mengaku, materi-materi yang disampaikan narasumber sangat membuka pengetahuan mereka dalam mengecek informasi. Sebab, selama ini mereka kerap mendapatkan berita yang belum diketahui kebenarannya, seperti mengenai menang undian. “Setelah adanya materi ini, kami bisa tahu tentang berita benar dan berita palsu,”ungkapnya.

Penulis : Soleman Pelu (JW Ambon/Mafindo Maluku)