082311771819 yppm.maluku@gmail.com
Lawan Hoaks, MAFINDO Maluku Tingkatkan Literasi Digital di Seram Bagian Timur

Lawan Hoaks, MAFINDO Maluku Tingkatkan Literasi Digital di Seram Bagian Timur

Penyampaian materi oleh Relawan MAFINDO Maluku,  Foto: Soleman Pelu

AMBON,JW.-Sebanyak 42 peserta Jambore Literasi Digital di Desa Keta, Kabupaten Seram Bagian Timur melakukan praktik periksa fakta berita hoaks. Melalui kegiatan itu, mereka jadi tahu, apakah berita yang mereka baca termasuk hoaks atau tidak.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Maluku dalam melakukan peningkatan keterampilan literasi digital di kalangan komunitas literasi untuk melawan hoaks. Kegiatan berlangsung 29-31 Desembar 2021.

Relawan Mafindo Maluku yang hadir sebagai narasumber pada kegiatan tersebut adalah Wellsy Bakarbessy, Soleman Pelu, dan Abubakar Difinibun. Masing-masing dari mereka memberikan materi penguatan untuk mencegah hoaks, seperti yang disampaikan oleh Wellsy terkait perkembangan digital di era globalisasi saat ini.

Soleman Pelu, yang memberikan materi tentang cara periksa fakta sekaligus mempraktikan bagaimana periksa fakta secara sederhana menegaskan bahwa jika ada satu berita yang tidak diketahui kebenarannya, sebaiknya jangan dulu disebarkan. “Perlu ada verifkasi atau memeriksa kebenarannya,” tegas Soleman.

Lebih lanjut, dia katakan bahwa informasi yang tidak akurat mengenai berita palsu, dengan judul yang sangat provokatif mengiring pembaca kepada opini yang negatif. Semua itu tidak terpisahkan dari kehadiran internet di dalam kehidupan kita. Dengan adanya internet yang super praktis sekarang, berbagai berita dapat tersebar luas dengan mudah dan tidak terkontrol secara teliti.

Sebelumnya, Wellsy Bakarbessy memberikan materi tentang perkembangan teknologi informasi yang telah menyebar di dunia tanpa batas. “Hal tersebut menyebabkan perubahan sosial yang signifikan berlangsung dengan cepat,” kata Wellsy.

Menurutnya, perkembangan teknologi informasi banyak memberikan dapak positif dan dampak negatif dalam kehidupan. Salah satu dampak negatif perkembangan teknologi informasi yang sering dijumpai yaitu, banyaknya berita palsu (hoaks).

Sementara dampak positif dari perkembangan teknologi informasi dan Komunikasi, dapat memberi kemudahan untuk mendapatkan layanan tertentu meski lewat jarak jauh, misalnya berbelanja online, pesan tiket online, dan lain sebagainya.

“Menghemat waktu, bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun. Kemudahan untuk mencari dan mendapat informasi lewat akses internet,” terang Wellsy.

Setelah peserta menerima dua materi tersebut, Abubakar Difinubun juga memberikan penguatan melalui materi tentang Bagaimana Bermedia Sosial dengan Baik. Abubakar menjelaskan, untuk kalangan anak muda atau pegiat literasi, agar bisa menggunakan media sosial untuk hal-hal positif, memposting hal-hal yang bermanfaat dan menginspirasi, serta tidak memberikan password akun media sosial kepada orang lain.

Penyampaian materi oleh relawan Mafindo sangat menarik perhatian peserta, hal ini ditujukan dengan keaktifan peserta pada sesi diskusi dengan relawan Mafindo. Seperti yang disampaikan oleh salah satu peserta, Masita Rahyantel, dia menjelaskan bahwa Mafindo memberikan ruang yang luas dan pengetahuan baru.

“Kehadiran Mafindo di kegiatan ini, kami bisa mengetahui tentang berita yang hoax dan berita yang fakta kebenaranya, dan kami juga bisa perlu berhati-hati dalam menjaga privasi media sosial kami, serta penyebaran berita sebelum ditahu kebenaran dari sumber tersebut,” ungkap Masita.

Kegiatan Jambore Literasi Digital yang berlangsung sejak tanggal 29-31 Desember 2021 itu, dilaksanakan oleh Taman Baca Keta, dengan mengusung tema “Cermat Literasi di Era Digital”, yang melibatkan beberapa Taman Baca di Seram Bagian Timur, seperti Taman Baca Rumadang, Taman Baca Kianlaw, Rumah Peradaban Qur’an dan Taman Baca lainnya.

Menurut pendiri Taman Baca Keta, Ali Akbar Rumeon, kegiatan ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan komunitas literasi yang ada di Seram Bagian Timur, untuk melawan hoaks yang beredar saat ini.

 

Penulis: Soleman Pelu (Relawan Mafindo Maluku/JW Ambon)

Hoaks Harus Dilawan Bersama

Hoaks Harus Dilawan Bersama

AMBON,JW.–Informasi bohong atau hoaks masih sulit dibendung. Perlu kerja sama semua pemangku kepentingan dan masyarakat untuk meminimalisir pembuatan dan penyebaran hoaks.

Mengingat pentingnya hal itu, Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (YPPM) Maluku melaksanakan kampanye massal melawan Misinfomasi dan Disinformasi di aula Hotel Lousnusa Amahai, Maluku Tengah, Kamis (27/1).

Direktur YPPM Maluku, Abdul Gani Fabanjo mengatakan, perjuangan melawan hoaks, baik misinformasi, disinformasi maupun malinformasi harus terus dilakukan. YPPM sebagai organisasi masyarakat sipil, juga memiliki peran untuk menangkal hoaks.

“Kami juga sedang berjuang untuk bisa menghindari dan mencegah semakin berkembangnya isu-isu hoaks, juga bagaimana bisa membantu agar semua ini bisa berjalan dengan baik,” ungkap Fabanjo.

Sebab, menurut dia, hoaks paling sukar dilepaspisahkan dari dunia digital. Apalagi yang berkaitan dengan isu agama dan politik yang dapat menimbulkan konflik vertikal maupun horisontal.

“Soal misinfomasi dan disinformasi itu adalah tanggung jawab kita bersama. Jika kita dapat mencegah hal itu terjadi, akan semakin menurunkan potensi-potensi konflik yang ada di daerah kita. Untuk meminalisir itu (hoaks) adalah dengan mengelola informasi dengan baik dan kritis,”tambahnya.

Di tempat yang sama, Ketua Komite Media Sosial dan Organisasi Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Maluku Mark Ufie menyebutkan, Indonesia berada posisi ketiga pengguna internet terbanyak di Asia Pasifik, setelah Brazil dan Filipina. Jumlahnya penduduk Indonesia pengguna internet 202, 2 juta.

“75 persen waktu kita terkoneksi dengan internet,” ungkap Mark yang hadir sebagai narasumber pada kampanye tersebut.

Jumlah pengguna internet yang sangat banyak tersebut, lanjut Mark, sangat memudahkan orang untuk mendapat informasi dari media digital, baik website pemberitaan maupun media sosial lewat ponsel pintar dan laptop.

 

Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (YPPM) Maluku melaksanakan kampanye massal melawan Misinfomasi dan Disinformasi di aula Hotel Lousnusa Amahai, Maluku Tengah, Kamis (27/1).

 

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Badan Pusat Statistik (BPS) dan eMarketer tahun 2018, sebut Mark, pemilik telepon pintar di Indonesia sebanyak 338.948.340 melebihi jumlah penduduk 255.561.000, dan terbesar ketiga di Asia Pasifik.

Tapi, pesatnya pengguna internet dan “smart phone” yang terkoneksi dengan media sosial, justru menyuburkan hoaks. Data hasil survei Badan Intelijen Indonesia (BIN) 2018, sebanyak 60 persen konten media sosial adalah hoaks, data CNN pada tahun yang menyebutkan 800.000 akun hoaks, dan survei HIPWE menunjukkan 65 warga Indonesia gampang percaya hoaks, termasuk yang tertinggi di dunia.

“Malas membaca, nalar rendah, malas berpikir, fanatisme buta dan rendahnya SDM adalah penyebabnya,”jelas duta hoaks Tempo Institute itu.

Sedangkan ciri-hoaks, kata Mark, antara lain provokatif, sumber tidak jelas dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban, pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral, memanfaat fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat atau hal yang sedang viral, memanipulasi foto dan video, serta minta supaya dibagikan sehingga viral.

Menurut Duta Bahasa Provinsi Maluku 2015 itu, hoaks dapat ditangkal dengan beberapa cara. Tips dari organisasi Stop Hoaks Indonesia (SHI) adalah STOP atau See (amati berita secara kritis apakah memiliki ciri-ciri berita kredebil), Talk (diskusikan dengan kelompok/pakar), Observe (teliti ke sumber terpercaya) dan Prevent (cegah dengan laporkan dan klarifikasi dengan referensi rujukan terpercaya).

“Salah satu bentuk mengamati secara kritis adalah tidak hanya membaca judul berita. Tapi sayangnya masyarakat kita hanya membaca judul, tidak membaca secara komprehensif,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Ambon, Tajudin Buano mengatakan, hoaks siber masuk ke di Indoesia pada musim Pilkada 2012. Hoaks terus berkembang saat Pilpres 2014 hingga memunculkan istilah “Cebong” dan “Kampret”.

Polarisasinya semakin beragam saat Pilkada DKI Jakarta 2017 hingga memasuki Pilpres dan Pileg 2019 hingga pandemi Covid-19. Tak hanya di Jawa, hoaks pada momentum-momentuk tersebut juga terjadi Maluku.

Namun, masih sangat sedikit orang, terutama pengguna media sosial mengerti, apalagi menyetop penyebaran hoaks. “Misalnya, langsung membagikan link berita atau postingan/status di media sosial tanpa mengecek dan membaca secara utuh informasi tersebut,”ujarnya.

Peran Semua Pihak

Mark melanjutkan, hoaks tidak bisa dihilangkan secara keseluruhan karena tetap diciptakan dan disebarkan. Yang bisa dilakukan adalah meminimalisir produksi dan penetrasi penyebaran.

Upaya tersebut harus dilakukan bersama. Tidak bisa dibebankan kepada organisasi nonprofit seperti MAFINDO dan media massa yang merupakan pihak swasta karena memiliki sumber daya manusia maupun keuagan yang terbatas.

Instansi pemerintah daerah yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab langsung seperti Dinas Infokom dan kepolisian daerah, harus menjadi garda terdepan, diikuti kelompok civil society seperti media massa dan jurnalis, komunitas anti hoaks, dan LSM.

Apalagi membuat kanal khusus untuk penyebaran informasi, baik berbasis website maupun media sosial official, sangat murah dan sudah lumrah.

“Sehingga klarifikasi untuk membendung derasnya informasi hoaks tidak bottom up, tapi juga top down, kita bergerak bersama. Dan saya kira, sudah saatnya dimulai sekarang. Apalagi kita tahu, 2024 adalah agenda besar nasional yakni pemilu dan pilkada serentak. Kita sudah bisa membayangkan bagainama dinamika politik dan efek buruk akibat hoaks,”tandasnya.

Sementara, menurut Tajudin, media massa tidak bisa diharapkan menjadi satu-satunya benteng terakhir perjernih informasi. Sebab, masih sedikit media yang terverifikasi di Dewan Pers dan melakukan kerja jurnalistik secara profesional.

Data Dewan Pers 2018, ada 47.000 media massa di Indonesia. Terdiri 2000 media cetak, 674 radio, 523 televisi, dan sisanya adalah media online atau siber.

Namun, hanya 567 media cetak yang profesional, 211 media online profesional, dan tidak lebih dari 200 TV dan radio profesional. Media tidak profesional dan abal-abal ini kerap memproduksi berita yang tidak benar, baik berupa misinformasi, disinformasi maupun malinformasi.

Olehnya itu, kata dia, masyarakat harus kritis terhadap sebuah informasi untuk mengecek kebenarannnya. Minimal jika ada informasi (berita) yang belum diyakini, maka mengetik judul berita tersebut di mesin pencari goole.

Jika berita yang sama juga ada di media-media lain, kemungkinan itu berita yang benar. “Sebaliknya, jika hanya beberapa media dan tidak memiliki alamat URL yang paten, maka wajib untuk ditelusuri terlebih dahulu,”pungkas wartawan Koordinator Liputan Ambon Ekspres itu.

Untuk diketahui, kampanye massal melawan misinformasi dan disinformasi ini merupakan kegiatan dari Memperjuangkan Ruang Sipil untuk Mempromosikan Ketahanan Demokratis. Program ini
dijalankan oleh The Asia Foundation (TAF) dengan melibatkan Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Maluku (YPPM) sebagai mitra daerah.

Lebih dari 20 peserta dari unsur pemerintah daerah, kepolisian, media massa, sekolah, guru, disabilitas, perempuan dan pemuda hadir pada kegiatan tersebut. Hampir semua peserta bertanya, menyampaikan pendapat dan masukan.

Usai dialog, seluruh peserta, narasumber, maupun panitia menuliskan pesan terkait hoaks dan membubuhkan tanda tangan di spanduk bertajuk “Maluku Tengah” lawan hoaks. (*)

Edukasi Masyarakat Melalui Pameran Sampah Plastik.

Edukasi Masyarakat Melalui Pameran Sampah Plastik.

Keterangan : Sampah-sampah pastik digantung di rumah Joe Manuhua, dalam kegiatan Pameran Sampah Plastik, 24-30 November 2021. (Muhammad Abubakar Fauzi Difinubun)

AMBON,JW.–Tidak seperti hari biasanya, pekarangan miliki Joe Manuhuwa Silooy penuh dengan sampah yang ditata apik. Ada tirai warna warnai berbahan tutup botol plastik di bagian depan. Ada pula gelas plastik bekas minuman yang ia gantung.

Hari itu, Minggu 29 November 2021, rumah Joe-begitu ia biasa dipanggil, jadi ruang pamer sampah-sampah. Selain pameran, hari itu juga ada diskusi yang diselenggarakan Beta Bank Sampah Maluku yang mengusung tema ‘Milenial Peduli Lingkungan’.

“Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya edukasi, mengadvokasi dan memberikan motivasi kepada masyarakat terkait dengan peduli lingkungan yang berawal dari kebiasaan membuang sampah sembarangan,” kata George Manuhua, Direktur Beta Bank Sampah Maluku.

Pameran sampah plastik berlangsung pada 24-30 November 2021. Joe memungut sampah-sampah tersebut di sekitar rumahnya di Negeri Hative Besar, Kecamatan Teluk Ambon, dan beberapa lokasi lain di Kota Ambon.

Ia mencatat, ada 9.046 sampah plastik yang digunakan untuk pameran. Terdiri dari 1.634 sampah botol kemasan, 3.200 Sampah gelas air minum kemasan, 4.212 sampah penutup botol, dan beraneka sampah plastik lainnya.

Pria 37 tahun, itu melibatkan pemuda di sekitar domisilinya untuk berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut. Mereka membutuhkan 37 hari untuk menyiapkan pameran.

“Ribuan sampah plastik ini tidak harus berakhir hanya di tempat sampah,”imbuh Joe.

Jamez Pakniany, pendiri Komunitas Rumah Bawa Perubahan (BAPER), yang hadir sebagai narasumber dialog, mengajak masyarakat terutama anak muda untuk menjaga lingkungan.

“Dengan adanya kegitaan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat Maluku, lebih khusus bagi generasi-generasi penerus agar bisa belajar tentang alam,”katanya.

Sementara, menurut Teria Stefani Sahuteru, Founder Moluccas Coastal Care (MCC), perlu adanya kerja sama antara komunitas-komunitas peduli lingkungan dengan pemerintah serta masyarakat.

“Perlu restorasi dan peningkatan kualitas lingkungan hidup melalui pendidikan publik, advokasi perubahan gaya hidup, dan perbaikan perencanaan komunitas,”jelasnya. (*)

 

Penulis : Soleman Pelu (JW Ambon)

14 Disabilitas dan Lansia Lakukan Vaksinasi di Kantor HWDI

14 Disabilitas dan Lansia Lakukan Vaksinasi di Kantor HWDI

AMBON,JW. – Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Provinsi Maluku bekerja sama dengan Puskesmas Karang Panjang mengadakan vaksin bagi penyandang disabilitas dan lanjut usia. Kegiatan berlangsung di kantor HWDI Maluku, Jalan Rijali No. 9, Ambon, Rabu (27/10/2021).

Menurut dokter dari Puskesmas Karang Panjang, dr Lies Ester jenis vaksin yang dipakai adalah Sinovac untuk dosis pertama. Sedang tenaga medis yang membantu pelaksanaan vaksin berasal dari puskesmas serta beberapa suster dari Rumah Sakit Valentine Maluku.

Vaksinasi untuk penyandang disabilitas dan lansia di kantor HWDI diikuti sekitar 14 orang. “Harusnya yang ikut lebih banyak, tapi ada yang berhalangan karena sakit sehingga tidak bisa hadir untuk mengikuti acara vaksin tersebut,” kata Lies Ester.

Sartje Tuarissa, salah satu penyandang disabilitas mengaku, sempat kwathir saat hendak divaksin. Bahkan tensinya naik menjadi 150/80. Namun, setelah mendapat penjelasan akhirnya bisa berlangsung aman. “Saya takut, jadi darah saya naik tiba-tiba,”ungkapnya.

Keterangan foto: Penyandang disabilitas menerima vaksin Sinovac dosis pertama di di kantor Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Maluku, Jalan Rijali No. 9, Ambon, Rabu (27/10/2021). Mien Agisty Rumlaklak/JW Ambon.

 

Usai mengikuti vaksin, peserta mendapatkan kartu vaksin dan sertifikatnya. Masyarakat yang belum divaksin diimbau untuk bisa datang ke Puskesmas Karang Panjang Ambon yang bersebelahan dengan Kantor Camat Sirimau.

Berdasarkan data Dinas Sosial Kota Ambon, hingga November 2021, 44 warga kota Ambon penyandang disabilitas telah mendapat pelayanan vaksinasi. Jumlah ini masih sangat kurang, karena total warga penyandang disabilitas di Ambon sebanyak 300 orang.

 

Penulis : Mien Agisty Rumlaklak
Editor   : Agung Purwandono

Kader Posyandu Dibekali Pengetahuan Tanda-tanda Bahaya Ibu Hamil

Kader Posyandu Dibekali Pengetahuan Tanda-tanda Bahaya Ibu Hamil

AMBON – Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi, Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Ambon melakukan sosialisasi untuk menurunkan angka kematian ibu dan balita, Selasa-Kamis (5-7/11/2021), di aula dinas setempat.

 

Kegiatannya berupa penyampaian materi tentang tanda-tanda bahaya ibu hamil dan ibu nifas kepada kader Posyandu.

Salah seorang dokter sedang menjelaskan sosialisasi terhadap peserta.

“Kegiatan ini sangat penting dan bermanfaat untuk dipahami para kader posyandu, karena kader posyandu perpanjangan tangan dari orang kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat,” kata dr Yusda Tuharea, Kabid Kesmas Kota Ambon.

Ditambahkan, dr Yusda, kegiatan ini, bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader posyandu tentang tanda-tanda bahaya ibu hamil dan ibu nifas. “Harapannya, melalui materi yang diberikan, akan memberi manfaat, menurunnya angka kematian ibu dan balita di Kota Ambon,” kata dr Yusda.

Penulis : Joice Sumeanak (JW Ambon)
Editor   : Agung Purwandono (Mentor JW)