082311771819 yppm.maluku@gmail.com
Seminar Publik di UIN A.M. Sangadji Ambon Bahas Penguatan Demokrasi Masyarakat Sipil Pasca Pemilu

Seminar Publik di UIN A.M. Sangadji Ambon Bahas Penguatan Demokrasi Masyarakat Sipil Pasca Pemilu

Ambon, 7 Mei 2026 — Universitas Islam Negeri (UIN) A.M. Sangadji Ambon bersama Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (YPPM) Maluku menggelar Seminar Publik bertajuk “Penguatan Demokrasi Masyarakat Sipil Pasca Pemilu di Ambon”, yang berlangsung di Aula Rektorat Lantai 3 UIN A.M. Sangadji Ambon.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Dr. M. Asrul Pattimahu, MA, akademisi UIN A.M. Sangadji, dan Astuti Usman, S.Ag., SH., MH, Komisioner BAWASLU Provinsi Maluku. Seminar dibuka secara resmi oleh Rektor UIN A.M. Sangadji Ambon, Prof. Dr. Abidin Wakano, M.Ag.


Dalam sambutannya, Prof. Dr. Abidin Wakano menegaskan pentingnya ruang-ruang akademik sebagai tempat memperkuat kesadaran demokrasi. Ia menekankan bahwa kampus bukan hanya pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga pusat pembentukan budaya politik yang kritis, etis, dan partisipatif.
“Pemilu boleh selesai, tetapi tanggung jawab demokrasi tidak pernah berakhir. Kampus harus menjadi tempat paling subur untuk menyemai nilai-nilai partisipasi, transparansi, dan pengawasan publik,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Dr. M. Asrul Pattimahu menyoroti kondisi demokrasi di Maluku berdasarkan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) lima tahun terakhir. Data menunjukkan adanya fluktuasi signifikan—naik, turun, dan stagnan—yang menandakan bahwa demokrasi di daerah belum terkonsolidasi secara stabil.
Beliau menekankan beberapa poin penting:


Demokrasi Maluku cenderung prosedural, belum menyentuh ruang substantif seperti kontrol publik yang kuat dan partisipasi kritis.
Fenomena klientelisme elektoral, polarisasi identitas, lemahnya penegakan hukum, dan dominasi oligarki masih menjadi tantangan utama.
Perlu transisi dari partisipasi mobilisasi ke partisipasi kesadaran, agar masyarakat tidak hanya menjadi objek politik saat pemilu tetapi subjek yang mengontrol jalannya kekuasaan.
“Angka indeks yang naik tidak otomatis berarti kualitas demokrasi membaik. Kita harus melihat apakah rakyat semakin kritis, apakah kebijakan lebih representatif, dan apakah hukum berjalan tanpa intervensi politik,” tegasnya.

Narasumber kedua, Astuti Usman dari BAWASLU Provinsi Maluku, memaparkan pentingnya pengawasan partisipatif dalam menjaga integritas pemilu dan demokrasi.
Beberapa poin yang ditekankan:

  1. Peran Penting Masyarakat dalam Pengawasan Pemilu
    Bawaslu mendorong masyarakat:
    Menjadi pemantau pemilu
    Menjadi relawan pengawas
    Melaporkan pelanggaran melalui kanal resmi BawasluFokus Pengawasan
    Termasuk pemutakhiran data pemilih, verifikasi dukungan calon perseorangan, kampanye, masa tenang, hingga rekapitulasi suara.
    3. Alasan Mengapa Partisipasi Publik Penting
    Meningkatkan legitimasi pemimpin
    Mencegah politik uang & manipulasi
    Menguatkan check and balance
    Menghasilkan kebijakan publik yang lebih representatif
    “Demokrasi yang sehat membutuhkan masyarakat yang kritis, berani bersuara, dan aktif mengawasi. Tanpa itu, pemilu hanya menjadi ritual lima tahunan tanpa substansi,” tegasnya.
    Astuti juga memaparkan berbagai program Bawaslu Maluku seperti Forum Warga, Bawaslu Mangente, kerja sama perguruan tinggi, hingga sekolah kader pengawas partisipatif sebagai bagian dari upaya memperluas keterlibatan masyarakat.

Seminar ini menekankan bahwa pasca pemilu bukanlah akhir, tetapi awal dari proses panjang memperkuat tata kelola demokrasi. Ruang dialog, pengawasan warga, jejaring masyarakat sipil, dan pendidikan politik harus terus diperluas untuk menjaga kualitas demokrasi di Maluku.
Kegiatan yang dihadiri mahasiswa, akademisi, aktivis, dan masyarakat umum ini diharapkan menjadi momentum membangun kesadaran kolektif bahwa demokrasi hanya akan kuat jika masyarakat sipil turut aktif mengawalnya.

YPPM Maluku Lanjutkan Pendampingan Rutin Kelompok Simpan Pinjam untuk Perkuat Kemandirian Masyarakat Desa Bara

YPPM Maluku Lanjutkan Pendampingan Rutin Kelompok Simpan Pinjam untuk Perkuat Kemandirian Masyarakat Desa Bara

Buru, 25 April 2026 – Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (YPPM) Maluku kembali melaksanakan kegiatan pendampingan rutin bagi Kelompok Simpan Pinjam di Desa Bara, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen YPPM Maluku dalam memperkuat kapasitas kelompok masyarakat agar mampu mengelola kegiatan simpan pinjam secara mandiri, transparan, dan berkelanjutan.

Pendampingan yang diikuti oleh 18 peserta ini diawali dengan kunjungan langsung kepada kelompok simpan pinjam untuk memantau perkembangan pelaksanaan kegiatan. Tim YPPM Maluku juga melakukan koordinasi bersama pengurus dan anggota kelompok guna memastikan pengelolaan kelompok berjalan sesuai dengan prinsip tata kelola yang baik. Selain memeriksa administrasi kelompok, tim memberikan pendampingan terkait pengelolaan keuangan, pencatatan administrasi, serta strategi penyelesaian berbagai kendala yang dihadapi dalam operasional kelompok.

Dalam proses pendampingan, YPPM Maluku turut mendorong keterlibatan aktif seluruh anggota dalam setiap pertemuan dan pengambilan keputusan. Partisipasi anggota dinilai menjadi faktor penting dalam membangun kelompok yang kuat, transparan, dan mampu berkembang secara berkelanjutan.

Hasil pendampingan menunjukkan perkembangan yang positif. Administrasi kelompok mulai tertata dengan lebih baik, pengurus semakin memahami pentingnya pengelolaan keuangan dan pencatatan administrasi yang tertib, sementara anggota memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai hak dan kewajiban dalam kegiatan simpan pinjam. Berbagai persoalan yang dihadapi kelompok juga berhasil diidentifikasi untuk menjadi bahan tindak lanjut dalam pendampingan berikutnya.

Meski demikian, beberapa tantangan masih menjadi perhatian, di antaranya tingkat kehadiran anggota yang belum konsisten, keterlambatan pembayaran tabungan, serta administrasi keuangan yang masih memerlukan pembinaan lebih lanjut. Selain itu, masih terdapat perbedaan pemahaman mengenai tata kelola kelompok, keterbatasan kemampuan pengurus dalam menyusun laporan keuangan, komunikasi antaranggota yang belum optimal, serta rendahnya partisipasi sebagian anggota dalam proses pengambilan keputusan. Kesibukan anggota dalam pekerjaan maupun aktivitas rumah tangga juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kehadiran dalam pertemuan kelompok.

Melalui pendampingan yang dilakukan secara berkala, YPPM Maluku berharap kapasitas kelembagaan Kelompok Simpan Pinjam di Desa Bara terus meningkat sehingga mampu menjadi wadah yang mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Pendampingan ini juga diharapkan dapat membangun budaya pengelolaan keuangan yang tertib, meningkatkan solidaritas antaranggota, serta mendukung keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat di Desa Bara.

YPPM Maluku Gelar Pelatihan Kelompok Simpan Pinjam VSLA di Desa Bara, Kabupaten Buru

YPPM Maluku Gelar Pelatihan Kelompok Simpan Pinjam VSLA di Desa Bara, Kabupaten Buru

Buru, 21 April 2026 – Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (YPPM) Maluku menggelar kegiatan Pelatihan Kelompok Simpan Pinjam berbasis Village Savings and Loan Association (VSLA) yang berlangsung di Basecamp YPPM Maluku, Desa Bara, Kabupaten Buru, pada Selasa (21/04/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya YPPM Maluku untuk memperkuat kapasitas ekonomi masyarakat desa, khususnya kelompok masyarakat yang terlibat dalam berbagai program pemberdayaan di wilayah pesisir. Melalui pendekatan VSLA, masyarakat didorong untuk membangun sistem tabungan dan pinjaman secara mandiri, transparan, serta dikelola langsung oleh anggota kelompok.

Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan masyarakat Desa Bara yang tergabung dalam kelompok simpan pinjam. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai konsep dasar VSLA, tata cara pembentukan kelompok, serta mekanisme pengelolaan tabungan dan pinjaman secara bersama.

Metode Village Savings and Loan Association (VSLA) merupakan model pengelolaan keuangan kelompok yang bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan sederhana. Melalui sistem ini, anggota kelompok secara rutin menabung dalam pertemuan kelompok, kemudian dana yang terkumpul dapat dipinjam oleh anggota untuk memenuhi kebutuhan ekonomi maupun pengembangan usaha kecil.

Selain itu, dalam pelatihan ini peserta juga diberikan penjelasan mengenai pentingnya pencatatan keuangan kelompok, aturan dalam pemberian pinjaman, serta mekanisme pengembalian dana yang disepakati bersama oleh seluruh anggota kelompok.

Fasilitator kegiatan menjelaskan bahwa sistem VSLA menekankan pada prinsip keterbukaan, kepercayaan, dan tanggung jawab bersama dalam pengelolaan dana kelompok. Dengan adanya sistem ini, diharapkan masyarakat dapat memiliki akses terhadap sumber pembiayaan yang lebih mudah tanpa harus bergantung pada lembaga keuangan formal.

Peserta pelatihan terlihat antusias mengikuti setiap sesi kegiatan, mulai dari pemaparan materi hingga diskusi kelompok mengenai rencana pembentukan dan pengelolaan kelompok simpan pinjam di tingkat desa.

Melalui kegiatan ini, YPPM Maluku berharap kelompok simpan pinjam berbasis VSLA dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat Desa Bara. Dengan adanya pengelolaan keuangan yang baik di tingkat kelompok, masyarakat diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus mendukung keberlanjutan berbagai program pemberdayaan yang sedang berjalan di wilayah tersebut.

YPPM Maluku dan Blue Ventures Dorong Penguatan Perikanan Berbasis Masyarakat di Desa Bara, Kabupaten Buru

YPPM Maluku dan Blue Ventures Dorong Penguatan Perikanan Berbasis Masyarakat di Desa Bara, Kabupaten Buru

Buru, 20 April 2026 – Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (YPPM) Maluku bersama Blue Ventures terus mendorong penguatan pengelolaan perikanan berbasis masyarakat melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan yang berlangsung di Balai Desa Bara, Kabupaten Buru, pada Senin (20/04/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program Perikanan Berbasis Masyarakat di Desa Bara, yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir dalam mengelola sumber daya perikanan secara berkelanjutan serta meningkatkan pemanfaatan hasil tangkapan untuk kesejahteraan keluarga nelayan.

Dalam kegiatan tersebut, Ona Umasugi selaku perwakilan dari Dinas Perikanan Kabupaten Buru menyampaikan materi terkait penguatan pengelolaan sektor perikanan di tingkat masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga masyarakat, serta mitra pembangunan menjadi langkah penting dalam mendorong pengelolaan perikanan yang lebih baik di wilayah pesisir.

Menurutnya, Desa Bara memiliki potensi sumber daya perikanan yang cukup besar, sehingga perlu didukung dengan peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai cara pengelolaan hasil tangkapan yang baik, mulai dari proses penangkapan hingga penanganan pasca tangkap.

“Kerja sama antara YPPM Maluku dan Blue Ventures dalam program perikanan berbasis masyarakat di Desa Bara ini telah menunjukkan perkembangan awal yang baik. Kegiatan seperti sosialisasi dan pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan,” ujarnya.

Selain membahas penguatan pengelolaan perikanan, kegiatan ini juga memberikan materi tentang pentingnya pemanfaatan ikan sebagai sumber pangan bergizi bagi keluarga nelayan. Ikan dikenal sebagai sumber protein berkualitas tinggi yang mudah diakses oleh masyarakat pesisir serta mengandung asam lemak omega-3 yang penting bagi kesehatan tubuh, termasuk untuk perkembangan otak dan kesehatan jantung.

Peserta kegiatan juga diperkenalkan dengan berbagai informasi terkait kandungan gizi ikan serta manfaatnya dalam meningkatkan kesehatan keluarga. Konsumsi ikan secara rutin dinilai mampu membantu memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat sekaligus mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah pesisir.

Selain itu, pelatihan juga membahas tentang penanganan ikan pasca tangkap yang baik untuk menjaga kualitas hasil tangkapan nelayan. Penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah kerusakan ikan yang dapat terjadi akibat aktivitas mikroorganisme, reaksi kimia, maupun kerusakan fisik selama proses penanganan.

Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa langkah-langkah sederhana seperti segera mendinginkan ikan setelah ditangkap, membersihkan isi perut ikan, mencuci dengan air bersih, serta menyimpan ikan pada suhu yang tepat dapat membantu menjaga kualitas ikan agar tetap segar dan memiliki nilai jual yang baik.

Kegiatan sosialisasi dan pelatihan ini diikuti oleh masyarakat nelayan Desa Bara yang antusias mengikuti setiap sesi materi dan diskusi. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan pemahaman serta keterampilan dalam mengelola hasil tangkapan ikan secara lebih baik, baik untuk kebutuhan konsumsi keluarga maupun untuk pemasaran.

Program Perikanan Berbasis Masyarakat yang dilaksanakan oleh YPPM Maluku bersama Blue Ventures ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah nyata dalam memperkuat peran masyarakat pesisir dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Dengan peningkatan kapasitas masyarakat serta dukungan dari berbagai pihak, diharapkan pengelolaan perikanan di Desa Bara dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

YPPM Maluku Lanjutkan Pendampingan Rutin Kelompok Simpan Pinjam untuk Perkuat Kemandirian Masyarakat Desa Bara

YPPM Maluku Perkuat Tata Kelola Kelompok Simpan Pinjam melalui Pendampingan Rutin di Desa Bara

Buru, 15 April 2026 – Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (YPPM) Maluku kembali melaksanakan pendampingan rutin bagi Kelompok Simpan Pinjam di Desa Bara, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas kelompok dalam mengelola keuangan, meningkatkan tata kelola organisasi, serta mendorong keberlanjutan kelompok simpan pinjam di tingkat masyarakat.

Pendampingan diikuti oleh 17 peserta dan difokuskan pada kunjungan langsung kepada kelompok untuk memantau perkembangan pelaksanaan kegiatan sekaligus memberikan penguatan kepada pengurus dan anggota kelompok. Selama kegiatan, tim YPPM Maluku melakukan koordinasi dengan pengurus terkait pelaksanaan program, memeriksa administrasi kelompok, serta memberikan pendampingan mengenai pengelolaan keuangan dan tata kelola kelompok yang baik.

Selain itu, tim juga memberikan arahan dalam menyelesaikan berbagai kendala yang dihadapi kelompok, seperti keterlambatan pembayaran tabungan dan pencatatan administrasi. Pendampingan ini turut mendorong partisipasi aktif seluruh anggota dalam setiap pertemuan maupun proses pengambilan keputusan, sehingga tata kelola kelompok dapat berjalan secara lebih transparan dan akuntabel.

Melalui kegiatan ini, sejumlah capaian positif berhasil diraih. Administrasi kelompok mulai tertata dengan lebih baik, pengurus semakin memahami pentingnya pencatatan keuangan yang rapi, serta anggota memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai hak dan kewajiban dalam kegiatan simpan pinjam. Berbagai persoalan yang muncul dalam pengelolaan kelompok juga berhasil diidentifikasi untuk ditindaklanjuti secara bersama.

Meski demikian, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu mendapat perhatian, di antaranya tingkat kehadiran anggota yang belum konsisten, keterlambatan pembayaran tabungan oleh sebagian anggota, serta pencatatan administrasi yang masih memerlukan pendampingan lanjutan. Perbedaan pemahaman mengenai tata kelola kelompok, keterbatasan kemampuan pengurus dalam menyusun laporan keuangan, hingga komunikasi antaranggota yang belum optimal juga menjadi catatan penting dalam proses pendampingan.

YPPM Maluku berkomitmen untuk terus mendampingi kelompok simpan pinjam di Desa Bara melalui pembinaan yang berkelanjutan. Pendampingan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas kelembagaan kelompok, meningkatkan kemandirian anggota dalam mengelola keuangan, serta mendukung terbentuknya sistem simpan pinjam yang transparan, akuntabel, dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.