
Desa Bara, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, Maluku | 23 Oktober 2026
Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Maluku (YPPM Maluku) menyelenggarakan sesi umpan balik data bersama masyarakat nelayan Desa Bara, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, pada Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat, memahami, dan mendiskusikan hasil pemantauan perikanan serta data sosial-ekonomi rumah tangga yang telah dikumpulkan selama periode kegiatan.
Data perikanan yang dibahas mencakup periode Desember 2025 hingga Oktober 2026 dan berasal dari pencatatan hasil pendaratan ikan di wilayah kelola masyarakat, mulai dari titik Waiduna hingga Waeruba. Sementara itu, data sosial-ekonomi yang dipresentasikan berasal dari periode Februari hingga Oktober melaluiĀ sesi ini, YPPM Maluku mengajak masyarakat memeriksa kesesuaian data dengan pengalaman mereka sehari-hari, sekaligus mengidentifikasi perubahan, tantangan, dan kebutuhan pengelolaan ke depan.
Berdasarkan data yang dipaparkan, total ikan yang tercatat didaratkan mencapai 1.203 kilogram dengan rata-rata hasil tangkapan sekitar 6,7 kilogram per trip. Selama periode pemantauan, tercatat 179 trip penangkapan dan 40 spesies ikan. Pencatatan juga menunjukkan peningkatan jumlah trip pada SeptemberāOktober 2026.
Tiga jenis ikan yang paling banyak tercatat didaratkan adalah bubara (Caranx ignobilis), gomuru (Pristipomoides multidens), dan dalise (Lutjanus timoriensis). Selain komposisi hasil tangkapan, sesi ini membahas proporsi ikan dewasa yang tercatat sebesar 68 persen. Angka tersebut menjadi bahan diskusi awal mengenai kondisi hasil tangkapan dan keberlanjutan reproduksi ikan. Penafsirannya tetap perlu mempertimbangkan ukuran pertama kali matang gonad atau ukuran layak tangkap dari masing-masing spesies.
Umpan balik juga mencakup sumber pendapatan, pendapatan tahunan, pengeluaran rumah tangga, ketahanan keuangan, akses layanan keuangan, serta modal sosial. Dalam paparan, rata-rata pendapatan tahunan masyarakat tercatat sekitar Rp20.000.000. Pertanian dan perikanan menjadi dua sektor sumber pendapatan utama, dengan persentase yang tercantum masing-masing 35,19 persen dan 37,22 persen. Urutan sektor dan persentase ini perlu dicocokkan kembali dengan dashboard sebelum dipublikasikan sebagai peringkat.
Pengeluaran bulanan rata-rata yang ditampilkan dalam materi mencapai sekitar Rp1.307.928, dengan pembelian bahan bakar minyak (BBM) untuk kapal menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar. Pada aspek ketahanan keuangan, 87 persen masyarakat dilaporkan telah mulai menabung. Akses terhadap layanan keuangan seperti mobile money dan microfinance juga telah dimanfaatkan masyarakat.
Sementara itu, pada aspek modal sosial, 38 persen kelompok menyatakan telah memiliki kepercayaan penuh kepada pemimpin kelompok nelayan.
Dalam diskusi, masyarakat menyampaikan bahwa keberlanjutan perikanan tidak dapat dibebankan hanya kepada nelayan atau masyarakat pesisir. Diperlukan keterlibatan dan dukungan para pemangku kebijakan agar upaya pengelolaan berjalan lebih kuat dan konsisten. Masyarakat juga menekankan perlunya metode pengelolaan hasil perikanan tangkap agar hasil yang diperoleh dapat dimanfaatkan secara lebih baik dan berkelanjutan.
Bagi YPPM Maluku, sesi umpan balik ini menunjukkan pentingnya data sebagai dasar percakapan dan pengambilan keputusan bersama. Catatan mengenai peningkatan jumlah trip, kondisi sosial-ekonomi, serta tingkat kepercayaan dalam kelompok menjadi bahan untuk melihat perkembangan sekaligus menentukan hal-hal yang masih perlu diperkuat. Hasil diskusi akan menjadi masukan bagi proses pendampingan dan pengelolaan perikanan berbasis masyarakat di wilayah kelola Desa Bara.