082311771819 yppm.maluku@gmail.com

Oleh : Zia Ngabalin (Staf YPPM Maluku)

Sesi Diskusi bersama dinas ESDM dan LH Provinsi Maluku

Refleksi Kehadiran dalam Lokakarya Gender Transformatif dan Inisiatif Dekarbonisasi Dipimpin oleh Perempuan Komunitas di Kota Ambon

Pada Kamis dan Jumat, 10–11 September 2026, saya berkesempatan hadir mewakili YPPM Maluku dalam Lokakarya Gender Transformatif dan Inisiatif Dekarbonisasi Dipimpin oleh Perempuan Komunitas di Kota Ambon, Provinsi Maluku yang diselenggarakan oleh Yayasan LAPPAN di Hotel Amaris Ambon.

Selama dua hari, saya tidak hanya belajar tentang dekarbonisasi dan transisi energi, tetapi juga melihat bagaimana isu perubahan iklim sangat dekat dengan kehidupan perempuan di komunitas.

Salah satu hal yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah Feminist Participatory Action Research (FPAR). Melalui pendekatan ini, perempuan tidak ditempatkan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai aktor yang memiliki pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan untuk mengidentifikasi persoalan dan mendorong perubahan di komunitasnya.

Hal tersebut terasa nyata melalui cerita perempuan dari Latuhalat dan Seilale tentang pengalaman mereka dalam kepemimpinan perempuan untuk dekarbonisasi. Dari pengalaman mereka, saya belajar bahwa aksi iklim tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Ia juga dapat tumbuh dari pengalaman dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Cerita yang paling membekas bagi saya datang dari Mama-Mama Jibu-Jibu, salah satunya Mama Ida dari Seilale. Di tengah aktivitasnya yang harus berjualan ikan, Mama Ida tetap menyempatkan diri hadir dalam forum-forum gender yang dibuat oleh LAPPAN.

Bagi saya, kehadiran Mama Ida menjadi pengingat bahwa partisipasi perempuan tidak selalu mudah. Di balik satu perempuan yang hadir di ruang diskusi, ada pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab ekonomi yang tetap harus berjalan. Karena itu, pelibatan perempuan seharusnya bukan sekadar menghadirkan mereka dalam forum, tetapi juga memastikan pengalaman dan suara mereka benar-benar dihargai.

Pembahasan kemudian berkembang pada dekarbonisasi yang dipimpin perempuan, termasuk pengalaman pengembangan PLTS di komunitas. Dari sini saya semakin memahami bahwa transisi energi bukan hanya tentang mengganti energi fosil dengan energi terbarukan. Ada persoalan tentang siapa yang memiliki akses terhadap energi, siapa yang terlibat dalam pengelolaannya, dan siapa yang memperoleh manfaat.

Dalam lokakarya ini juga diperkenalkan Belém Gender Action Plan (B-GAP) sebagai bagian dari upaya memperkuat keterkaitan antara kesetaraan gender dan aksi iklim. Pembahasan ini membuat saya melihat bahwa agenda gender dan perubahan iklim tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan dan aksi yang nyata di tingkat daerah.

Menariknya, ruang belajar ini juga mempertemukan pengalaman komunitas dengan perspektif pemerintah. Perwakilan Dinas ESDM Maluku dan Dinas Lingkungan Hidup Maluku hadir dalam pembahasan mengenai kebijakan dan aksi iklim, mitigasi, adaptasi, serta sektor energi di Maluku dan Kota Ambon.

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah Blok Masela. Di tengah dorongan dekarbonisasi dan transisi energi, pengembangan gas bumi seperti Masela membuka diskusi mengenai bagaimana Maluku menempatkan energi fosil dalam arah transisi energi ke depan.

Bagi saya, pembahasan ini penting karena dekarbonisasi tidak cukup dilihat hanya dari seberapa banyak emisi yang dikurangi. Kita juga perlu melihat bagaimana transisi tersebut berdampak pada masyarakat dan apakah perempuan memiliki ruang yang cukup untuk terlibat dalam prosesnya.

Dua hari mengikuti kegiatan ini akhirnya membuat saya membawa pulang satu pemahaman sederhana: dekarbonisasi bukan hanya tentang energi yang lebih bersih, tetapi juga tentang proses yang lebih adil.

Belajar dari perempuan Latuhalat, Seilale, dan Mama-Mama Jibu-Jibu membuat saya melihat bahwa perempuan bukan sekadar kelompok yang terdampak perubahan iklim. Mereka juga memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kapasitas untuk menjadi bagian dari solusi.

Dan mungkin, perubahan yang besar memang perlu dimulai dengan memberi ruang lebih luas kepada mereka yang selama ini paling dekat dengan persoalan di lapangan.