082311771819 yppm.maluku@gmail.com


Laut merupakan salah satu tempat masyarakat pesisir menggantungkan hidup. Di dalamnya terdapat ekosistem yang saling bekaitan dan menopang keberlanjutan sumber daya perikanan. Namun, untuk memahami kondisi ekosistem tersebut, pengamatan saja tidaklah cukup. Diperlukan survei ekologi yang dilakukan secara sistematis agar kondisi lingkungan laut dapat diketahui melalui data yang terukur.

Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Maluku (YPPM Maluku) berkesempatan mengikuti Pelatihan Survei Ekologi yang diselenggarakan oleh Blue Ventures di Ternate, Maluku Utara, pada 5–10 Oktober 2026. Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peningkatan kapasitas mitra yang sebelumnya juga dilakukan secara daring pada 30 September–2 Oktober 2026.

Pelatihan selama enam hari tersebut tidak hanya berfokus pada pemahaman teori di dalam kelas, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempraktikkan metode monitoring ekologi secara langsung di lapangan. Materi pelatihan mencakup pemantauan ekosistem lamun dan mangrove, metode manta tow untuk monitoring terumbu karang, pemetaan habitat secara partisipatif, serta pengelolaan dan analisis data ekologi.

Dalam prosesnya, peserta mempelajari tahapan survei sejak persiapan, penentuan titik pengambilan sampel (sampling), hingga pengumpulan dan pengolahan data. Peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan sejumlah perangkat digital, seperti Google Earth untuk membantu melihat kondisi geografis dan merencanakan lokasi survei, serta KoboCollect, Google Sheets, MonMang, dan MERMAID untuk mendukung proses pencatatan, pengelolaan, analisis, dan interpretasi data sesuai kebutuhan monitoring.

Pada sesi lapangan, peserta mempraktikkan pengambilan data di sejumlah titik pengamatan di Pulau Maitara. Pengalaman ini menjadi bagian penting dari proses pembelajaran karena monitoring ekologi tidak hanya menuntut pemahaman terhadap metode, tetapi juga ketelitian dalam menerapkannya, konsistensi pencatatan, serta kesiapan menghadapi kondisi di lapangan.

Mengenal Metode Monitoring Ekologi

Salah satu materi yang dipelajari adalah monitoring lamun. Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidup dan tumbuh terendam di perairan laut. Padang lamun menjadi habitat bagi berbagai biota, termasuk ikan dan invertebrata, serta berperan penting dalam menjaga fungsi ekosistem pesisir. Melalui survei lamun, pengamat dapat mengumpulkan informasi mengenai kondisi dan tutupan lamun serta biota yang berasosiasi dengannya, sesuai parameter dan metode yang digunakan.

Selain lamun, peserta mempelajari metode manta tow untuk monitoring terumbu karang. Metode ini dilakukan dengan menarik pengamat secara perlahan menggunakan perahu di atas lintasan pengamatan yang telah ditentukan. Pengamat kemudian mencatat atau memperkirakan kondisi terumbu karang berdasarkan parameter yang ditetapkan dalam metode manta tow. Metode ini memungkinkan pengamatan terhadap area terumbu karang yang relatif luas dalam waktu yang lebih singkat, sehingga berguna untuk memperoleh gambaran umum kondisi terumbu karang di suatu wilayah.

Pelatihan juga mencakup monitoring mangrove, yaitu ekosistem pesisir yang ditumbuhi tumbuhan yang mampu hidup di lingkungan pasang surut. Pemantauan mangrove dapat memberikan informasi mengenai kondisi vegetasi dan struktur tegakan berdasarkan parameter yang digunakan.

Ketiga materi tersebut memperlihatkan bahwa setiap ekosistem membutuhkan pendekatan pengamatan yang sesuai. Perlu dipahami pula bahwa manta tow bukanlah nama ekosistem, melainkan metode survei yang digunakan untuk memantau kondisi terumbu karang.

Pembelajaran tidak terhenti pada pengambilan data. Peserta juga mempelajari proses memasukkan data melalui perangkat digital, membersihkan data (data cleaning), menginterpretasikan hasil pengamatan, serta memahami mekanisme pelaporan survei ekologi. Tahapan ini penting karena data lapangan perlu dikelola secara cermat agar dapat digunakan untuk membaca kondisi ekosistem dan mendukung pengambilan keputusan.

Tim YPPM Maluku (Naam dan Zia)

Mengapa Survei Ekologi Penting bagi Masyarakat Pesisir?
Bagi masyarakat pesisir, kondisi ekosistem laut berkaitan erat dengan keberlanjutan sumber penghidupan. Terumbu karang dan padang lamun, misalnya, menjadi habitat bagi berbagai jenis biota laut. Sementara itu, mangrove menyediakan habitat, tempat mencari makan, dan area pembesaran bagi sejumlah organisme. Ketika kondisi habitat berubah, kehidupan biota yang bergantung padanya juga dapat terdampak.

Meski demikian, hubungan antara kondisi ekosistem dan hasil tangkapan ikan tidak selalu sederhana. Hasil tangkapan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, seperti musim, cuaca, upaya penangkapan, dan tekanan terhadap sumber daya perikanan. Karena itu, data ekologi perlu dipahami bersama informasi perikanan dan pengetahuan masyarakat setempat.

Di sinilah survei ekologi memiliki peran penting. Pertama, survei membantu menyediakan data dasar (baseline) mengenai kondisi ekosistem pada suatu waktu. Data tersebut dapat digunakan sebagai pembanding dalam monitoring berikutnya untuk mengidentifikasi perubahan, tanpa harus bergantung hanya pada pengamatan sesaat.

Kedua, hasil monitoring dapat membantu menentukan prioritas pengelolaan. Informasi mengenai kondisi habitat dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam merancang kegiatan perlindungan, pemulihan ekosistem, maupun pengelolaan perikanan berbasis masyarakat. Keputusan yang didukung data memiliki landasan yang lebih kuat dibandingkan keputusan yang hanya mengandalkan asumsi.

Ketiga, monitoring ekologi dapat memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir. Masyarakat bukan hanya pihak yang menerima dampak dari perubahan lingkungan, melainkan juga memiliki pengetahuan lokal dan pengalaman langsung mengenai laut yang mereka manfaatkan. Ketika pengetahuan tersebut dipertemukan dengan metode pengumpulan data yang sistematis, proses pengelolaan dapat menjadi lebih partisipatif dan kontekstual.

Dengan demikian, survei ekologi bukan sekadar kegiatan teknis untuk mengumpulkan angka dan mencatat kondisi habitat. Survei merupakan salah satu langkah untuk membangun pemahaman bersama mengenai kondisi laut, perubahan yang terjadi, serta tindakan pengelolaan yang perlu dipertimbangkan.

Praktik Menuju Wilayah Dampingan
Bagi YPPM Maluku, pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan ini menjadi bekal untuk memperkuat pelaksanaan monitoring ekologi di wilayah dampingan. Yakni di  Desa Bara, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku.

Penerapan monitoring di lokasi dampingan perlu diawali dengan perencanaan yang sesuai dengan kondisi setempat, termasuk pemetaan habitat, penentuan titik pengamatan, kesiapan tim dan peralatan, serta penyusunan jadwal pengambilan data. Data yang terkumpul selanjutnya perlu dikelola dan dianalisis agar dapat menjadi dasar untuk memahami kondisi ekosistem di wilayah kelola.

YPPM Maluku berkomitmen untuk menerapkan dan membagikan kembali pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan kepada masyarakat dampingan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas tim dan masyarakat dalam melakukan monitoring secara bertahap, sekaligus membangun ketersediaan data ekologi yang dapat mendukung pengelolaan sumber daya pesisir dan perikanan secara berkelanjutan.

Akhirnya, menjaga laut membutuhkan lebih dari sekadar kepedulian. Dibutuhkan pengetahuan, data, keterlibatan masyarakat, dan tindak lanjut yang berkesinambungan. Sebab, sebelum menentukan bagaimana laut harus dikelola, kita perlu terlebih dahulu memahami kondisi laut yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat pesisir.