Ambon, 11 September 2025 – Suasana Café Ujung JMP sore itu terasa berbeda. Sekitar 30 anak muda dari kalangan jurnalis, aktivis, komunitas, dan koalisi muda Demres berkumpul dalam kegiatan yang diinisiasi oleh YPPM Maluku: “Refleksi Aktivisme Pemuda dan Kebebasan Berekspresi.”
Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yakni Tajudin Buano (jurnalis) dan Vivi Marantika atau yang akrab disapa Ussy Vivi (aktivis), serta dipandu oleh Iftyn Yuninda sebagai moderator.

Kegiatan ini menjadi ruang aman untuk berbagi pandangan, pengalaman, dan kegelisahan tentang bagaimana pemuda hari ini mengekspresikan diri di tengah arus digital dan dinamika demokrasi yang penuh tantangan.
Dalam pembukaan, YPPM Maluku menekankan pentingnya peran pemuda sebagai agen perubahan sosial. Namun, realitas di lapangan tidak selalu mudah. Ancaman kriminalisasi aktivis, penyalahgunaan UU ITE, maraknya disinformasi, hingga ujaran kebencian di media sosial, seringkali menjadi penghalang bagi kebebasan berekspresi.

Salah satu narasumber, Tajudin Buano, menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi. “Keinginan saya adalah mengumpulkan seluruh aktivis di Kota Ambon untuk membuat sesuatu yang lebih baik terkait refleksi aktivisme pemuda dan kebebasan berekspresi. Aspirasi dari para pemuda yang ingin bersuara di ruang publik seringkali tidak digubris oleh pihak elit, bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena ekspresi kami dianggap kurang akurat. Hal ini muncul akibat kurangnya ilmu dan penguatan kapasitas dari para aktivis senior yang jarang sekali membuka ruang diskusi terbuka bagi generasi muda,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Ussy Vivi menegaskan pentingnya kekuatan pemuda dalam menjaga kualitas kebebasan berekspresi. “Mulut dan pikiran orang muda menjadi senjata kebebasan berekspresi. Orang muda sangat punya pengalaman dan praktik baik bagaimana mengolah data secara baik dan secara bertanggung jawab. Tantangan kita luar biasa berat, jadi memang kolaborasi lintas generasi, lintas isu, dan lintas latar belakang menjadi sangat penting,” ujarnya.
Masukan kritis juga datang dari Ipeh, seorang jurnalis muda yang turut hadir dalam diskusi. Ia menyoroti kecenderungan aktivis muda yang masih sering turun ke jalan tanpa bekal data dan strategi yang kuat. “Aktivis muda cenderung tidak menyuarakan suaranya dengan data dan strategi pemetaan allies. Jadi, kalian harus mampu membuat pemetaan allies, karena itu adalah strategi penting dalam menyuarakan pendapat dan kebebasan berekspresi, terutama pada saat berdemo,” sarannya.
Diskusi berlangsung hangat, dengan semangat bersama untuk menjaga agar kebebasan berekspresi tidak hanya dinikmati sebagian orang, tapi benar-benar menjadi hak semua warga.

Menjelang penutupan, muncul satu benang merah: refleksi ini bukan akhir, melainkan awal untuk memperkuat jejaring, memperluas dialog, dan terus menghidupkan semangat aktivisme pemuda di Maluku.

Komentar Terbaru