Buru, Maluku – YPPM Maluku bersama mitra terus melaksanakan kegiatan Landing Monitoring Survey (LMS) dan Landing Profiling Survey (LPS) sebagai bagian dari upaya pemantauan hasil tangkapan nelayan di Desa Bara, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru. Pendataan periode Maret 2026 difokuskan pada pengumpulan data hasil tangkapan, karakteristik aktivitas penangkapan, serta profil nelayan sebagai dasar pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.

Kegiatan pendataan dilaksanakan pada 19 Maret 2026 di Tempat Pendaratan Perikanan (TPP) Desa Bara. Enumerator secara rutin mencatat berbagai informasi penting, meliputi jenis hasil tangkapan, jumlah produksi, alat tangkap yang digunakan, jumlah trip penangkapan, hingga identitas nelayan yang melakukan pendaratan ikan.
Dibandingkan periode sebelumnya, kualitas proses pendataan menunjukkan peningkatan. Hal ini terlihat dari semakin tertibnya proses pencatatan serta meningkatnya kesadaran nelayan dalam memberikan informasi yang akurat kepada enumerator. Data yang terkumpul menjadi lebih lengkap dan dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan statistik perikanan serta mendukung pengambilan kebijakan dalam pengelolaan sumber daya perikanan.

Meskipun wilayah Teluk Bara masih dipengaruhi perubahan iklim dan kondisi cuaca yang cukup ekstrem, sebagian besar nelayan tetap berupaya melaut dengan mengutamakan keselamatan kerja. Bagi masyarakat Desa Bara, kegiatan penangkapan ikan merupakan sumber mata pencaharian utama yang menopang kebutuhan keluarga. Di sisi lain, kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber daya laut juga terus dipertahankan agar hasil perikanan tetap tersedia secara berkelanjutan.
Pada periode ini, proses digitalisasi data juga mulai berjalan lebih optimal. Enumerator tetap melakukan pencatatan menggunakan formulir manual di lapangan, kemudian setelah data diverifikasi, seluruh informasi diinput ke dalam aplikasi KoboToolbox. Pemanfaatan platform digital tersebut membantu mempercepat proses pengolahan data, mengurangi risiko kehilangan informasi, serta meningkatkan efisiensi penyimpanan dan pelaporan hasil pendataan.
Namun demikian, pelaksanaan pendataan masih menghadapi sejumlah tantangan. Kondisi cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi, angin kencang, dan gelombang besar yang mencapai pesisir Desa Bara menyebabkan aktivitas melaut nelayan menurun. Demi keselamatan, sebagian besar nelayan ikan dasar memilih menunda aktivitas penangkapan sehingga jumlah pendaratan ikan yang dapat dipantau menjadi lebih sedikit.
Selain faktor cuaca, keterbatasan fasilitas penyimpanan hasil tangkapan juga menjadi kendala dalam proses pendataan. Sebagian besar nelayan belum memiliki sarana penyimpanan berpendingin sehingga ikan harus segera dijual kepada pengepul maupun konsumen sesaat setelah didaratkan. Kondisi ini menyebabkan enumerator memiliki waktu yang sangat terbatas untuk mencatat volume, jenis, dan komposisi hasil tangkapan sebelum ikan berpindah tangan.
Ketidakpastian waktu pendaratan akibat perubahan cuaca juga memengaruhi efektivitas kegiatan pendataan. Tidak semua hasil tangkapan dapat terdokumentasikan secara optimal karena proses distribusi berlangsung sangat cepat. Oleh karena itu, diperlukan strategi pendataan yang lebih adaptif, seperti peningkatan koordinasi dengan nelayan dan pengepul, penyesuaian jadwal pendataan, serta pengembangan fasilitas penyimpanan hasil tangkapan untuk mendukung pencatatan data yang lebih lengkap dan akurat.
Melalui kegiatan Landing Monitoring Survey dan Landing Profiling Survey yang dilakukan secara berkala, YPPM Maluku berkomitmen untuk terus memperkuat sistem data perikanan skala kecil di Desa Bara. Data yang dihasilkan diharapkan menjadi dasar dalam mendukung pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan, meningkatkan kualitas perencanaan program, serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir.
